Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Tuesday, June 19, 2012

Haruskah Fanatik dengan Gadget??

Kemarin ini saya sempat baca artikel tentang Fanatisme Gadget di sebuah web berita Indonesia. Di web web berita juga mulai banyak artikel artikel yang menjabarkan tentang kelebihan dan kekurangan dari sebuah gadget. Dan yang bikin ngeri adalah comment-comment dari artikel berita itu, kadang ada yang sampe marah kalau gadget yang dia pakai ternyata mendapat nilai yang kurang baik di artikel itu. Pertanyaannya adalah Haruskah Fanatik dengan Gadget??

Kalau saya sih berpendapat, fanatic terhadap sesuatu boleh-boleh saja, tohh kita hidup memang bebas memilih bukan?? Tapi fanatic yang saya dukung adalah fanatic yang juga menghormati pilihan orang lain. Simplenya, kalau ingin dihormati, ya harus menghormati terlebih dulu. Setuju??

Jujur saja, kalau dengan gadget saya bisa dibilang fanatic dengan produk-produk dari Apple. Karena buat saya sendiri, hanya produk-produk dari Apple saja yang bisa memenuhi kebutuhan yang saya harapkan dari sebuah gadget. Namun, saya juga tidak menutup mata dengan produk gadget yang lain yang kebanyakan memang pesaing dari Apple itu sendiri. Yang penting buat saya, kalau ingin menggantikan posisi produk-produk Apple di diri saya, produk itu harus lebih baik dari Apple sendiri. Baik dari segi history nya, kemudahan penggunaan, keindahan designnya dan yang paling utama adalah kualitasnya.

Kesimpulannya, fanatic terhadap sesuatu sih wajar dan sah-sah saja. Tapi jika sudah fanatic, lalu menghina atau menjatuhkan alternative lain rasa-rasanya kurang bijak. Jika ada alternative lain yang lebih baik, mengapa kita harus pilih yang baik?? J



Wednesday, February 22, 2012

Kado Jurnal Ilmiah buat Mahasiswa

Jadi ceritanya gue baru-baru sekarang ini tau mau ada syarat kelulusan lain selain Skripsi. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, denger hal kaya begini udah cukup bikin gue keringet dingin. Gimana ngga? Dengernya aja baru awal bulan, sedangkan mau dilaksanainnya Agustus 2012 ini. Skripsi aja udah bisa bikin mahasiswa kehilangan berat badannya, gimana ditambah Jurnal Ilmiah??

Langsung gue cari tau, Jurnal Ilmiah itu maksudnya kaya gimana. Jadi menurut hasil bacaan gue, jadi setelah Skripsi lulus, mahasiswa itu juga harus buat Jurnal Ilmiah yang relevan sama Skripsi itu, dan jurnal itu nanti harus dinilai dan harus lulus juga. Kalau cuma Skripsi yang lulus tapi jurnal ilmiah ngga, ya berarti bisa dibilang belum sah jadi Sarjana.

Keputusan untuk nambah satu syarat kelulusan untuk mahasiswa ini diambil, soalnya Pendidikan di negeri kita tercinta ini udah tertinggal sama negara tetangga. Iya betul negara tetangga kita itu. Jadi di negara tetangga, mahasiswa disana sudah terbiasa untuk ngebuat jurnal ilmiah, dan mereka juga udah terbiasa untuk ngelakuin suatu penelitian supaya dapet data yang akurat. Nah sebagai tetangga yang baik, kita juga ga mau ketinggalan pastinya. Makanya keputusan itu diambil.

Namanya juga keputusan pasti ada yang pro dan yang kontra lah ya. Yang Pro, menganggap keputusan ini akan menguntungkan dunia Pendidikan Indonesia kedepannya nanti. Yang kontra menganggap keputusan ini terlalu cepat dan sosialisasinya pun kurang dan cuma menambah beban tugas aja.

Kalau gue sihh setuju-setuju aja, "ASAL" sosialisasinya juga udah cukup. Soalnya temen-temen gue aja masih banyak yang bingung jurnal ilmiah itu kaya gimana. Sekarang kan untuk dapet dosen pembimbing aja susah, nah untuk ngerjain Jurnal Ilmiah kan belum ada aturan yang jelas soal dosen pembimbing. Takutnya karena mahasiswa udah pengen cepet-cepet lulus, jadi mereka lebih utamain hasil daripada proses. Tohh kita juga ga mau kan dikenal sebagai negara pembuat Jurnal Ilmiah terbanyak tapi banyak yang sama judulnya. Apalagi kalo diinget standar nilai UN aja masih berubah-ubah tiap tahun. 


Friday, February 3, 2012

Kuliah sambil Kerja atau Kerja sambil Kuliah???

Di jaman yang seperti sekarang, ekonomi sedang susah dan serba tidak cukup. Malu dong kalau udah menyandang predikat mahasiswa, tapi untuk kebutuhan kaya beli pulsa, ongkos buat pacaran tapi masih minta sama orang tua. Ga masuk di akal lagi buat pacaran kita minta sama orang tua, emang yang pacaran orang tua?? Mumpung masih muda dan mahasiswa, bekerja paruh waktu adalah pilihan yang tepat untuk dijalani. Jam kuliah kan lebih fleksible disbanding jam waktu sekolah SMA, jadi mahasiswa kalau niat pasti bisa kok untuk cari uang tambahan disamping uang bulanan yang dikasih orang tua. Kita bisa jadi beli barang yang sulit kita beli dengan uang bulanan kita. Karena namanya juga uang bulanan, ya biasanya sih abis bulan, abis juga uangnya. Dengan kerja paruh waktu juga kita bisa membelikan sesuatu yang cukup untuk membuat lengkungan indah di antara kedua pipi orang tua kita. Ya walaupun orang tua ga pernah minta sih untuk anaknya membelikan sesuatu untuk dirinya. Cuma ya ini lebih ke bakti kita sebagai anak ke orang tua.
Nah cuma yang jadi masalah kalau mahasiswa ingin bekerja paruh waktu itu, adalah soal manajemen waktu. Kalau terlalu fokus atau lebih meluangkan waktu untuk kuliah, hampir pasti ditempat kita kerja paruh waktu, kita bisa dianggap tidak professional dengan tanggung jawab di tempat kerja. Sedangkan sebaliknya, jika kita lebih meluangkan waktu untuk bekerja, sudah dapat dipastikan di tempat kita kuliah, prestasi pun akan menurun.
Semakin menarik kalau kita lebih melihat mahasiswa itu sebagai manusia yang hidup dalam kehidupan social di masyarakat. Kita bahas saja yang ruang lingkupnya di kota besar seperti Jakarta dan kota penyangganya seperti Depok dan Bogor. Mahasiswa yang tinggal di kota-kota seperti ini, hampir semua harus mengikuti perkembangan jaman dan teknologi yang ada, supaya ga dianggap kuno dan ketinggalan jaman. Terlalu banyak kebutuhan untuk hidup di kota sosialita seperti itu. Macet buat jenuh, kita harus cari hiburan, gadget baru  makin banyak yang canggih, punya gadget canggih butuh pulsa, harus beli pulsa, pulsa juga ga cukup satu, kadang kita butuh pulsa juga buat kita berinternet ria dengan modem internet.
Dengan kenyataan hidup di kota besar seperti di atas, sudah banyak mahasiswa yang berusaha untuk memenuhi kebutuhannya dengan bekerja paruh waktu. Namanya juga pegawai paruh waktu, biasanya dibayar dengan banyaknya jumlah jam kita bekerja. Yang menjadi masalah ketika jumlah jam kuliah kita lebih banyak dengan jumlah jam kita kerja. Target gaji tidak tercapai, sedangkan lelah sudah pasti karena harus kuliah dan bekerja. Pilihan pun mengerucut menjadi 2 pilihan, mengurangi jam kuliah agar target gaji tercapai atau tetap dengan bekerja walaupun target tidak tercapai. Ada yang memilih dengan tetap bekerja, dan tidak mengganggu kegiatan kuliah. Namun tidak sedikit yang mengorbankan waktu kuliahnya agar target tercapai. Alasan yang paling sering ditemui adalah “kita sekolah dari TK sampai Kuliah ujung-ujungnya mau apa sih?? Kerja Kan?? nah mumpung lagi dapet kerja, jadi gue kerja dulu”. Alasan yang Salah?? Ga juga. Alasan itu masuk akal. Alasan ini mungkin salah satu alasan yang menyebabkan banyak mahasiswa yang mengambil cuti dulu sebelum kuliahnya selesai. Ini yang disebut Kerja sambil Kuliah, karena lebih mengutamakan kerja dibanding kuliah.
Yang Kuliah sambil Kerja juga ada. Kira-kira apa ya yang menyebabkan mahasiswa lebih memilih kuliah dibanding kerja??. Kita ambil kesimpulan kalau kita di sekolahkan dengan biaya dari orang tua, dan kita kesampingkan dulu orang yang kuliah dengan hasil dia bekerja, ini persoalan yang lain. Biasanya mahasiswa yang mendahulukan kuliah dibanding kerja lebih dikarenakan mereka sadar betul bahwa yang membiayai mereka kuliah adalah orang tua mereka dan mereka bekerja paruh waktu karena mereka perlu biaya tambahan, sedangkan untuk meminta dari orang tua itu sesuatu yang tidak memungkinkan. Jadi mereka lebih mementingkan kuliah sebagai tanggung jawab kepada orang tua, sedangkan bekerja hanya sebagai biaya tambahan uang jajan saja.
Jadi mana yang lebih baik, Kerja sambil Kuliah atau Kuliah sambil Kerja?? Dua-duanya baik, tapi semuanya kembali lagi ke mahasiswa yang ingin menjalaninya. Kuliah sambil kerja merupakan cara yang sangat baik, kalau kita ingin tetap bertanggung jawab kepada orang tua yang sudah membiayai kuliah kita. Kerja sambil kuliah pun kita tetap bisa bertanggung jawab dengan orang tua, asalkan setelah target kita bekerja tercapai, kita tidak melupakan pendidikan kita di bangku kuliah. Karena tidak dapat dipungkiri dalam dunia kerja pun, ijazah dari Perguruan Tinggi sangat diperhitungkan selain pengalaman kerja seseorang. Jadi, kesimpulan menurut saya adalah Kuliah sambil Kerja atau Kerja sambil Kuliah keduanya baik untuk dijalani, namun jika ditambah dengan manejemen waktu yang lebih baik, pasti hasil yang lebih baik yang didapat. 

Thursday, November 10, 2011

E-KTP mulai masuk desa

Kemarin sore tepatnya gue melakukan pemotretan untuk mendaftar E-KTP. Kalau ditanya apa bedanya dengan KTP biasa, menurut gue perbedaannya ada di bentuk E-KTP nya nanti, karena bentuk E-KTP yang baru akan ada semacam chip, sehingga kemungkinan KTP ganda semakin kecil peluangnya. Terus data yang diinput juga ga kaya KTP yang biasanya, karena kita juga diminta untuk memasukkan data sidik jari, dan bukan hanya ibu jari aja, keempat jari yang lainnya juga, retina mata juga diinput.. Itu aja sih menurut saya perbedaan dari KTP yang dulu dengan E-KTP yang sekarang.


Prosedur untuk mendaftakan diri membuat E-KTP ini sendiri ga ribet kok sebenernya, cuma lama di nunggu.
Awalnya gue mendapat surat dari kelurahan untuk datang ke kantor ke kelurahan, karena giliran RT tempat gue-yang mendapat giliran untuk melakukan pendaftaran. Kantornya sendiri buka dari jam 08.00 - 20.00 WIB.

Iseng gue tanya sama pegawai disana, "kalau yang kerja gimana Pak??", sebenernya boleh saja ikutan RT lain, cuma lebih baiknya sesuai dengan jadwal RT tempat tinggal kita, untuk mengurangi resiko kesalahan input data, Gitu katanya. Jadi kalau ada yang berhalangan hadir pas RT tempat tinggalnya, hari pas RT lain dapat giliran juga boleh kok, cuma ya berharap aja pegawainya ga salah input data.

Setelah sampai di kantor kelurahan itu, yang gue lakuin adalah ngisi daftar tamu, dan dari daftar tamu ini adalah urutan nama yang akan dipanggil nanti sama pegawainya. Nah disini yang gue bilang ribet sih ngga, cuma lama nunggunya. Iyaa, soalnya kita harus nunggu satu per satu orang yang dipanggil untuk masuk ke dalam, karena alat untuk melakukan input data yang tadi hanya ada 1 di setiap kelurahan. Sedangkan 1 orang bisa 10-20 menit. Jadi bisa dibayangin kan??

Dalam hal menunggu yang harus diperhatikan adalah jangan meninggalkan antrian dulu, karena jika kita pergi sebentar, dan pada saat pergi itu nama kita dipanggil, maka kita dianggap tidak ada, dan ketika kita datang, maka kita harus mengisi daftar tamu yang baru, dan mengantri lagi.

Pada saat giliran gue, ini dia urutan penginputan data untuk E-KTP :

  1. Difoto untuk pas foto.
  2. Tanda tangan
  3. Scan 4 jari kanan - 4 jari kari ( tidak termasuk ibu jari )
  4. Scan ibu jari kanan - ibu jari kiri
  5. Scan retina mata
  6. Tanda tangan
  7. Scan telunjuk kanan, scan telunjuk kiri
Nah itu lah urutan penginputan data diri untuk E-KTP. Jadi ga heran kalau lama di nunggu, selain alatnya cuma 1, ya karena emang yang harus diinput juga banyak.

Mungkin biar datanya ga bisa dipalsuin, jadi meminimalkan KTP ganda. Semoga aja deh dengan E-KTP ini, sensus penduduk bisa lebih pas lagi perhitungannya. Dan operasi yustisi yang sering digelar di Jakarta pun lebih tepat sasaran.